Ditanah sengketa aku berdiri
pagi siang dan malam aku berjaga
panas mentari dan hujan selalu menerpaku
bersandar dipohon pisang menatap pagar yang penuh kawatberduri ibu
kulempar boomerang angin pun tak bersahaja
jatuh dipuing puing yang penuh cerita
secangkir kopi yang ku nikmati
Menunggu harapan di balik barisan gedung gedung menjulang tinggi
Memancarkan ke indahan menarik simpati pada pandangan mata yang terlena
Aku terdiam mencari kata kata
didalam bungkusan nasi
kini ku sadari bahwa kekuatan itu ada pada ujung dasi berlambang
aku juga ingin perdamaian agar jalan tanpa tumpah darah
melihat berita saling tumpang tindih menutup luka para penjaga tanah sengketa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar